Archive for April, 2006

Learn

Friday, April 7th, 2006

AssWw…
Bulan Ramadhan…ga tau kenapa jadi teringat ama bulan itu…sejenak aku kembali memasuki dimensi itu…30 hari dijalani…sebulan sebelumnya aku senang dan bersemangat…ingin sekali tiba bulan ramadhan…
Kali ini aku ingin membicarakan tentang seorang bapak…(gibah ih!!…-eh sabar dulu…olint kan ga nyebutin siapa orgnya…n ga berusaha mebicarakan sesuatu yang negatif)..Beliau seorang ayah, mungkin umurnya sekitar 40-50 tahunan..aku sendiri gak terlalu menilik..anggap saja beliau bernama bapak fulan. Orang bilang karena beliau sering memelihara burung sebagai hewan peliharaannya, jadi orang sering menyebutnya bapak fulan manuk…(manuk bahasa sunda nya burung..)…hehe cukup menggelitik…itulah yang namanya istilah…banyak org yang dengan mudahnya mengganti nama panggilan sesuai dengan kebiasaan objek yang dipanggilnya..kebayang aja kalo ada yang memelihara kucing…bisa2 orang banyak memanggilnya bapak fulan ucing…anehnya lagi aku punya tetangga yang kerjanya di bagian PLN (perusahaan Listrik Negara)…jadi orang bilang…Wah bapak “fulan PLN” ngadain syukuran dirumahnya…padahal nama aslinya sangat bagus…ternyata kebiasaan bisa merubah atribut..
Kembali kepada topik yang akan dibahas…Setiap malam, bahkan sebelum bulan ramadhan…Aku terbangun dari tidurku…entah kenapa…kadang aku langsung membuka mataku dari tidurku…dan kulihat jam di HP ku ternyata masih jam 2 pagi…sekitar ku sepi…kadang aku sempat iseng…ingin melihat saudara2ku (adik dan kakak2ku tidur)…aku sempat melihat masing2 wajah mereka…dalam hatiku aku tersenyum…hehe ternyata wajah alami seseorang bisa kita lihat ketika mereka sedang tidur…wajah yang sangat polos dan apa adanya…yang tidak dibuat-buat…aku menengok adikku…aku tersenyum wah begitu nikmatnya adikku tertidur…serasa tidak ada beban yang difikirkan…dan kemudian aku kembali ke kamarku…terduduk dan mencoba untuk mengembalikan kesadaranku sampai penuh…(mesti “on” dulu…)…setelah beberapa waktu…aku mendengar sayup2 suara org sedang mengaji…aku mencoba fokus…jam 2 lebih 15 menit..siapakah beliau? Kebetulan rumahku dekat dengan lingkungan masjid..sehingga ketika diadakan pengajian pun bisa aku dengar walaupun dari rumah…Malam itu begitu hening, terasa nyaman, tak ada suara yang gaduh yang sering kudengar ketika siang…sangat berbeda…aku kembali kepada perkiraanku akan suara itu…sepertinya bapak fulan manuk,,,(maaf emang panggilannya kaya gitu…)…Subhanallah…aku sendiri sempat termenung, ingin tersenyum sambil menangis…Disaat semua tertidur lelap…Beliau masih terjaga untuk menyempatkan diri mengaji…(jadi merinding gini…)…aku cukup tergugah olehnya…ternyata masih ada orang yang selalu mengingatNya…Namun bukan hari itu saja..keesokan harinya  bahkan hampir setiap hari aku selalu mendengar beliau mengaji…
Kembali aku kepada aktivitas ku…aku seolah2 terpanggil untuk melakukan sesuatu…kulupakan rasa kantuk ku…dan aku mulai melakukan sesuatu…hingga adzan subuh pun tiba…
Kembali pada bulan ramadhan, aku sudah terbiasa dengan suara beliau…karena aku tak bisa melihatnya dari rumah..aku hanya bisa mendengar…Suasana ramadhan terasa berbeda,,,dini hari itu pun aku terjaga dan sambil tidur mataku terbuka…aku mendengar suara beliau kembali..setiap hari selama bulan ramadhan, beliau tak lupa menghidupkan speaker untuk mengumumkan dan membangunkan warga sekitar  untuk saur, yang sebelumnya beliau pun mengaji.…suara yang khas dan cukup lantang. beliau selalu mengeluarkan kata2nya “ASSALAMUALAIKUM…IBU-IBU GEURA SAUR,,,HUDANG TI KASUR…NUJU KADAPUR…NYADIAKEUN SAUR….KEUR BEKEL KA LIANG KUBUR…SAUR…SAUR..”.Ya Allah sungguh mulianya nama Mu…sehingga masih ada  seseorang yang masih terus mengingatMu, atas izinMu beliau sempat membangunkan warga sekitar untuk saur….akhirnya aku mendengar ibuku memanggilku…ternyata ibuku pun terbangun…”Lint…siap2 bentar lagi saur…”…dan aku pun terbangun walau sungguh rasa kantuk itu benar2 ingin mengalahkanku dan menyuruhku “lint tidur aja…10 menit lagi…olint masih capek”…tapi aku harus melawan itu semua…dan aku menyahut “iya bu..aku akan ke bawah”…dan aku pun menuju dapur untuk menyiapkan hidangan saur beserta ibuku…ketika itu waktu pun masih jam 2  lebih 10 menit…yah hidangan sih tinggal dipanaskan dan disajikan…sisanya masih ada waktu….imsak masih lama…aku pun kembali ke atas menuju kamarku…dan aku melakukan sesuatu….tak terasa sudah jam 3…aku bingung…ingin apa…perasaan kecilku memanggil…”Lint kayanya kalo ke atas loteng asik deh ” ntah kenapa malam itu aku ingin ke atas loteng..padahal hari2 sebelumnya aku mana berani ingin ke atas sendirian….tapi suasana ramadhan itu yang terasa berbeda…dan aku pun memberanikan diri…aku menuju ke atas loteng…dan kubuka pintu menuju luar di atas rumahku…dan ketika itu…SUBHANALLAH….aku terpana…aku menangis…ntah aku menangis karena apa….kulihat ke atas langit….”Ya Allah….sungguh besarnya kuasaMu…”kulihat bintang…begitu banyaknya…sempat kuhitung tapi akhirnya aku mengalah…karena begitu banyaknya….sungguh indah malam itu…aku tak merasakan takut sedikit pun….tak ada siapapun di atas itu…hanya aku dan kesendirianku ditemani ayat2 ciptaan Allah dialam semesta ini….bintang2 yang sangat indah…malam yang terang…dan kulihat lampu2 yang menerangi setiap rumah dari kejauhan…rumah yang berada di gunung/bukit sana…dalam hatiku aku bertanya…”sedang apa yah mereka disana? Apakah sama sepertiku…melihat ke atas langit yang penuh cahaya bintang?…” subhanallah…aku tak bisa berkata apa2 lagi…malam itu benar2 indah…malam di bulan Ramadhan…diiringi tangisku akan ciptaanNya…tangis yang mengisyaratkan rasa kekagumanku akan Sang Pencipta….sungguh tak akan kulupakan malam itu…
Mungkin sekitar 30 menit aku berada di atas, dan ternyata ibuku baru menyadari akan ketiadaanku di bawah…Beliau memanggilku untuk menemaninya…akhirnya keluarga dan saudara2 ku ternyata sudah terbangun dan siap dengan santapan saur….
Dalam hatiku aku berdoa semoga bapak fulan manuk memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat…semoga beliau menjadi ahli surga…amiin…karena aku tersentuh akan beliau…dan saat itu aku memperoleh pelajaran….terima kasih ya Allah atas keindahan alam ciptaanMu…dan juga atas keindahan sikap dari makhluk ciptaanMu…yang membuatku untuk belajar…dan belajar…W(^_^)W

Wasalam
Dzihni firuz

Ketika Dosa Anda Sedalam Samudera

Friday, April 7th, 2006

Nadirsyah Hosen

Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan sepanjang usia kita?

Andaikan saja kita bersedia menyediakan satu kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira apa yang terjadi? Saya menduga kuat bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menaham muatan dosa kita.

Bukankah shalat kita masih “bolong-bolong”? Bukankah pernah kita tahan hak orang miskin yang ada di harta kita? Bukankah pernah kita kobarkan rasa dengki dan permusuhan kepada sesama muslim? Bukankah kita pernah melepitkan selembar amplop agar urusan kita lancar? Bukankah pernah kita terima uang tak jelas statusnya sehingga pendapatan kita berlipat ganda? Bukankah kita tak mau menolong saudara kita yg dalam kesulitan walaupun kita sanggup menolongnya?

Daftar ini akan menjadi sangat panjang……

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Allah berfirman dalam Surat az-Zumar [39]: 53 “Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk mengampuni dosa-dosa kita.

Karena itu, kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan taubat pada-Nya.Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa kita ke pada jiwa yang fitri dan nazih.

Jika anda mempunyai onta yang lengkap dengan segala perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang. Bukankah anda sedih? Bagaimana kalau tiba-tiba onta itu datang kembali berjalan menuju anda lengkap dengan segala perbekalannya? Bukankah Anda akan bahagia? “Ketahuilah,” kata Rasul, “Allah akan lebih senang lagi melihat hamba-Nya yang berlumuran dosa berjalan kembali menuju-Nya!”

Allah berfirman: “Dan kembalilahh kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS 39:54)

Seperti onta yang sesat jalan dan mungkin telah tenggelam di dasar samudera, mengapa kita tak berjalan kembali menuju Allah dan menangis di “kaki kebesaran-Nya” mengakui kesalahan kita dan memohon ampunNya…

Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami Ya Allah!

Sungguh akan Kami Berikan Cobaan Kepadamu

Friday, April 7th, 2006

Nadirsyah Hosen

Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar menghadapinya.

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk berdo’a: “Ya Tuhan kami, jangnlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya…”(QS 2: 286)

Do’a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah. Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke “orang pintar” agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke “kursi” yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sadaqoh.

Al-Qur’an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: “Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS 2: 155)

Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah….tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, “yah..sabar kan ada batasnya…” Atau lidah kita berseru, “sabar sih sabar…saya sih kuat tidak makan enak, tapi anak dan isteri saya?” Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.

Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. (Qs 2: 156)

Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat “Inna lillahi….” Orang sabar-kah kita? Nanti dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.

Arti kalimat itu adalah : “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Qur’an!

Ikhlaskah kita bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila proyek yang sudah didepan mata, tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dna diberikan kepada saingan kita. Berubah menjadi dengki-kah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru, mobil baru atau malah pacar baru. Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah…. Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur’an: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berkata: “Siapa yang tak rela menerima ketentuan-Ku, silahkan keluar dari bumi-Ku!”

Subhanallah….. “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”

Armidlae, 27 Agustus 1997

Menahan Lapar Karena Tamu

Friday, April 7th, 2006

Seorang telah datang menemui Rasulullah S.A.W dan telah menceritakan kepada baginda tentang kelaparan yang dialami olehnya. Kebetulan pada ketika itu baginda tidak mempunyai suatu apa makanan pun pada diri baginda mahupun di rumahnya sendiri untuk diberikan kepada orang itu. Baginda kemudian bertanya kepada para sahabat, “Adakah sesiapa di antara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tetamunya pada malam ini bagi pihak aku ?”
Seorang dari kaum Ansar telah menyahut, “Wahai Rasulullah S.A.W, saya sanggiup melakukan seperti kehendak tuan itu.”

Orang Ansar itu pun telah membawa orang tadi ke rumahnya dan menerangkan pula kepada isterinya seraya berkata, “Lihatlah bahawa orang ini ialah tetamu Rasulullah S.A.W. Kita mesti melayaninya dengan sebaik-baik layanan mengikut segala kesanggupan yang ada pada diri kita dan semasa melakukan demikian janganlah kita tinggalkan sesuatu makanan pun yang ada di rumah kita.”
Lau isterinya menjawab, “Demi Allah! Sebenarnya daku tidak ada menyimpan sebarang makanan pun, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita di rumah ini ?”

Orang Ansar itu pun berkata, “Kalau begitu engkau tidurkanlah mereka dahulu (anak-anaknya) tanpa memberi makanan kepada mereka. Apabila saya duduk berbual-bual dengan tetamu ini di samping jamuan makan yang sedikit ini, dan apabila kami mulai makan engkau padamlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali supaya tetamu itu tidakk akan ketahui bahawa saya tidak makan bersama-samanya.”
Rancangan itu telah berjalan dengan lancarnya dan seluruh keluarga tersebut termasuk kanak-kanak itu sendiri terpaksa menahan lapar semata-mata untuk membolehkan tetamu itu makan sehingga berasa kenyang. Berikutan dengan peristiwa itu, Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud, “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan.” (Al-Hasy : 9)

Karena Bintang Pun Bercahaya

Friday, April 7th, 2006

Publikasi: 20/01/2003 09:11 WIB

eramuslim -
Sesekali pandanglah langit di malam hari. Kalau tidak mendung, kita bisa melihat betapa indahnya kelap-kelip bintang menghiasi langit. Ada yang terlihat terang ada yang terlihat meredup. Ada yang terlihat berwarna jingga, ada yang terlihat berwarna biru, ada yang terlihat putih. Semuanya membuat indah walaupun kita sedang di dalam suasana kegelapan malam.
Tahukah Anda bahwa sebetulnya cahaya bintang-bintang yang kita lihat saat ini bukan merupakan cahaya yang sebenarnya pada saat ini dipancarkan dari bintang-bintang itu. Bintang-bintang itu sama seperti matahari kita, juga memancarkan cahaya ke bumi. Cahaya itu sampai ke penglihatan kita setelah menempuh waktu yang amat sangat lama. Cahaya itu menempuh jarak dalam satuan tahun cahaya (light year). Kalau biasanya kita menghitung jarak dengan meter, inci, dan lainnya, astronom menggunakan satuan tahun cahaya untuk menghitung jarak yang sangat jauh. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam satu tahun.
Sedikit angka-angka, kecepatan cahaya dalam ruang hampa adalah sekitar 300,000 kilometer per detik. Sehingga dalam satu tahun cahaya berarti mempunyai jarak 9,460,800,000,000 kilometer, hmmm… sungguh jarak yang luar biasa jauh. Ibaratkan seseorang yang menempuh perjalan sejauh itu, tentu akan memakan waktu yang sangat lama. Demikian pula dengan cahaya dari bintang yang jaraknya bisa sampai ratusan tahun cahaya. Misalnya bintang Alkaid mempunyai jarak sekitar 101 tahun cahaya dari bumi. Berarti cahaya yang kita lihat dari bintang Alkaid sekarang merupakan pancaran cahaya dari 101 tahun yang lalu. Jadi kita melihat cahaya dari masa lampau. Subhanallah.
Selain itu, sebagaimana matahari yang suatu saat nanti tidak lagi beraktivitas, semua bintang mempunyai umur hidup yang menentukan pancaran cahaya yang diberikannya. Beberapa bintang sebetulnya bintang itu sudah tidak ada… sudah mati… sudah tidak beraktivitas lagi, tetapi saat ini kita masih bisa melihat pancaran cahayanya. Subhanallah.
Kita diberi Allah suatu keajaiban. Di satu sisi, kita diberi alam semesta yang amat sangat luas, sehingga perlu memakan waktu yang sangat lama untuk mengeksplorasinya. Di sisi lain, kita diberi kemampuan untuk melihat masa lampau dari alam semesta ini, melalui cahaya bintang tadi. Melalui cahaya bintang itu, kita bisa mengukur seberapa jauh bumi kita ini dengan bintang lain. Melalui cahaya bintang itu, kita bisa menggunakannya untuk menghitung berapa lama lagi matahari akan meredup dan menjadi mati.
Sama halnya dengan bintang, manusia pun diberi waktu hidup. Nabi Muhammad pernah berkata, bahwa kita ini mempunyai umur sekitar 60-70 tahun. Dalam kurun waktu itu, kalau boleh diandaikan dengan bintang, merupakan waktu dimana kita memancarkan cahaya. Waktu dimana kita bisa memberikan yang terbaik untuk kemaslahatan umat dan mencari ridho Allah. Setelah kita wafat nanti, seperti bintang di langit, kita akan meredup dan tidak beraktivitas lagi.
Seperti bintang, ‘cahaya’ dari diri ini masih bisa terus hidup. Cahaya dalam diri ini masih bisa hidup jika amalan yang kita kerjakan bermanfaat bagi umat. Amalan yang baik dan digunakan terus menerus oleh umat akan selalu membuat diri kita yang sudah wafat tadi masih terus dikenang. Lihatlah nama-nama Newton, Einstein, Galileo dan tidak ketinggalan ilmuwan dan tokoh muslim seperti Imam Bukhari, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan masih banyak lagi yang lain. Mereka tetap dikenang, karena ‘cahaya’ dari mereka yaitu amal perbuatan mereka berguna bagi umat ini.
Apa saja yang sudah kita lakukan? Cukupkah dalam umur begitu pendek, kita mengisinya dengan amalan yang baik? Cukupkah amal yang kita kerjakan membuat ‘cahaya’ yang kita berikan bertahan? Tinggal bagaimana kita menggunakan waktu kita untuk berbuat baik, sehingga ‘cahaya’ dari diri kita ini dapat terus menerus menerangi kehidupan orang lain sampai saat ini, walaupun kita sudah wafat.
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (Qur’an Al Mulk:1-4) Wallahu’alam bi shawab
Zulfikar S. Dharmawan
(zulfikar@ukhuwah.or.id)