ukhtiku sayang….
18
juni 2006
“Ukhti…udah
liat belum kalo fulana sekarang dah dijilbab, jilbabnya panjang
lagi,,berarti dakwah kita selama ini berhasil yah ukh…”terlontar
sebuah kalimat dari percakapan antara 2 orang di sebuah masjid di
halaman kampus…ehm…ada juga sebuah kalimat “Wah si fulan dan
fulana pacaran tuh…harus diberesin sekarang juga…kita gencar
kasih tau kalo pacaran tuh haram!…”….atau ada juga “Eh…si
akhwat itu terlibat VMJ (alias Virus Merah Jambu)….bla.bla..bla”…atau
“eh si akhwat ini jilbabnya udah panjang yah…berarti tambah
soleh aja”n masih banyak lagi yang dilontarkan yang terkadang
kita pernah menghadapi hal seperti itu…
Banyak
anggapan bahwa seseorang yang sudah berjilbab dan sering tinggal di
masjid menjadi waham yang pada umumnya orang sudah mencap kalo dia
alim dan sholeh…memang kebanyakan seperti itu…penilaian yang
dianggap terlihat menyimpulkan seseorang seperti itu malah menjadi
suatu kriteria atau penilaian seseorang terhadap si objek…”wah
dia emang sholeh ko, soalnya sering di masjid aja…wah bisa jadi
kriteria istri tuh”…tapi menurut olint…balik lagi ke dalam
diri kita pribadi…yang kadang olint sendiri merenung apa seseorang
berubah penampilan sudah dikatakan kalo dia seseorang yang sholeh?
Apakah seseorang yang berjilbab panjang sudah dikatakan lebih sholeh
dibandingkan dengan seseorang yang jilbabnya lebih pendek dari
itu???..
Kembali
kepada niat masing2 seseorang untuk merubah penampilan, apakah memang
niatnya memang karena Allah atau memang karena ikut2an…(orang lain
mana tau kan??)….lagian sholeh or gak seseorang apa kita yang
menentukan??..yah mungkin anggapan itu karena kita melihat secara
visual, secara penampilan memang TOP BGT SKL BOO!! (top banget sekali
boo!!)…tapi kadang orang melihat dengan kaca mata sendiri kalo itu
sudah menjadi “cap”
Olint
pernah denger kalimat dari seseorang yang, dari kalimat yang bisa
diambil menjadi pelajaran untuk olint “Sebelum kita mengajarkan
orang lain berenang…kita juga harus pinter berenang…jangan sampe
kita ngajarin dia berenang, tapi kita sendiri tenggelam (ga
selamet)…”….kalimat yang sederhana tapi bermakna, sekarang
balik lagi tentang ingin merubah orang menjadi lebih baik…istilahnya
dakwah (menyeru kepada kebaikan…–pengertian org secara
umum)…niatnya baik…untuk merubah seseorang atau orang banyak/
sekitar menjadi lebih baik…tapi kadang balik lagi dengan
anggapan…”Apakah kita sudah seperti itu…menyuruh orang untuk
melakukan perbuatan A, sedang diri kita sendiri masih jauh dari
perbuatan A…??”…
Kadang
kita ingin tampak lebih baik ketika berhadapan dengan orang banyak,
ingin di cap sholeh lah, di cap sebagai figure untuk dicontoh
lah…Astagfirullah…balik lagi ke diri kita, ketika kita bertemu
dengan adik kelas…”Jaga Izzah” atau istilah jaga image
kita….jangan sampe orang lain tau kalo diri kita itu “gokil”
aslinya…tapi yah berarti itu bukan diri kita sebenarnya kan??
Seolah-olah kita harus memerankan sesuatu yang sebenarnya itu bukan
diri kita pribadi (-alias topeng)…”Ukhti…harus jadi pendiem
kalo dihadapan orang lain apa lagi dihadapan ikhwan/ laki-laki”…tapi
balik lagi (dari tadi bulak-balik terus)…yang namanya seseorang
pasti mempunyai watak, dan setiap watak seseorang pasti berbeda
dengan orang lain, mungkin ada yang punya watak lemah lembut, ada
yang keras, ada yang bersahaja, ada yang pendiem, periang, dll, dan
salah satu factor yang membentuk watak seseorang adalah
lingkungan….tapi bukan berarti kita harus merubah watak kita untuk
menjadi watak orang lain kan yah…kalo misalnya di dunia ini
semuanya pendiem (–ntar sepi kan??)…
Allah
menciptakan manusia beraneka ragam…tapi gimana kita menjalankan apa
yang diberikan Allah sebaik mungkin…bukan berarti harus merubah
kita menjadi orang lain…”be your self” asal
terjaga…misalnya kita banyak omong nih orangnya,,,nah gimana
caranya setiap omongan yang dilontarkan oleh kita itu menjadi suatu
hikmah atau pelajaran atau ilmu untuk kita n sekitar, ( terutama sih
semoga Allah ridho dengan apa yang kita bicarakan)…trus jadi orang
pendiem, bukan berarti harus rubah jadi suka nyeroscos…( tapi
kadang dengan diem juga ada yang bisa kita ambil dari
sikapnya)….justru dengan sikap kita pun bisa jadi contoh untuk
sekitar,,,bukan berarti tidak membolehkan orang lain menasihati,itu
juga baik ko…dengan membuang sampah pada tempatnya juga..bisa jadi
contoh untuk orang lain…gak harus”Ehh….buang sampah tuh
harus ke tempatnya”, tapi kita sendiri diem aja…padahal…inti
dari apapun yang kita kerjakan adalah dikembalikan lagi ke
Allah…(misalnya dalem hati :“Ya Allah…aku membuang sampah ini
karena aku tak mau makhluk mu tidak nyaman dengan keberadaan sampah
yang berserakan…dan semoga Allah yang Maha Menatap ridho
denganku…amiin ^_^) ”
Trus
semangat ingin merubah orang lain menjadi lebih baik…(wah niat yang
baik)…bagus juga….tapi terkadang secara sadar ataupun tidak
sadar,,,kita selalu menggibah ( Astagfirullah….)…katanya pengen
ngerubah Si akhwat atau orang lain,,,tapi dibelakangnya secara sadar
ga sadar kita udah menggibah dengan alasan apapun….misalnya “yah
ini demi kebaikan dia…”… yang niatnya pengen ngerubah ke
arah yang baik…malah kita sendiri yang gak baik…dengan
membicarakan aibnya didepan orang….(Astagfirullah….sadar ga sadar
kita pernah mengalami seperti itu…)…Ingin merubah orang bukan
berarti menjerumuskan diri kita sendiri, kadang kita juga jadi emosi
karena kecewa dengan perubahan teman yang menjadi lebih buruk
lagi…(tapi ko jadi emosi yah??)…katanya pengen ngerubah
orang…tapi udah menggibah,,,trus emosi lagi,,,pake hawa
nafsu…Astagfirullah….
Kembali
pada hakikatnya semua datang dari Allah dan kembali pula
padaNya…seseorang berubah hakikatnya bukan karena kita…tapi
memang Allah lah yang membukakan atau memberi hidayah, tapi mungkin
media nya berbeda2, bisa datangnya dari masalah, lingkungan, teman,
etc…Tapi kadang kita suka ngerasa bangga kan? Kalo misalnya kita
bisa merubah orang lain menjadi lebih baik…apa yang sebenarnya kita
banggakan? apa semua dari jerih payah kita? ,,,,the answear is
“nope”….mungkin semua atas rahmat dari Nya…
Apa
kita menjamin dengan perkataan “Soalnya dia udah berbeda prinsip
atau pemahaman…”..emang kita yakin dengan pemahaman kita kalo
apa yang kita pegang itulah yang paling benar??…kebenaran mutlak
hanya milikNya…kita hanya mencari kebenaran (lewat Quran,Hadist)…
Waduh…olint
kesinggung yah ama tulisannya???hehe, ga ko biasa aja..…maaf or af1
yah…olint menulis karena memang ada keadaan seperti itu disekitar
kita, yang sering kita alami…kadang kita merasa diri kita /
golongan kita benar,trus orang lain kurang benar..padahal yang dicari
bukan golongan siapa yang paling benar atau salahnya…tapi
sebenarnya yang diperlukan adalah “keberserahdirian” kita ke
Allah nya.. bukan mencari kekurangan orang aja, ..,ingin merubah org
sehingga kita sibuk dengan urusan orang sedangkan aib sendiri
dibiarkan…Astagfirullah…diri kita sendiri pun butuh perbaikan…dan
kita cenderung menjudge orang kalo orang itu salah( tanya ke diri
kita sendiri, renungkan…apakah kita sudah benar?…)
Pernah
baca kalimat di sebuah majalah sekolah “Dunia ini butuh contoh,
bukan butuh nasihat…”…ehmm…kesinggung ga lint??
—hehe…tetep ga ko…yah mohon maaf bagi yang kesinggung…kalo
olint salah mohon diperbaiki…cuman …menurut hadist " Allah tidak melihat bentuk rupamu tapi melihat hatimu"
kita
bareng2 belajar yuuk!…dari syariat lahir (fiqihnya) maupun syariat
bathinnya…tapi maksud olint juga bukan berarti kita harus melepas
jilbab( walah…sama sekali ga.–justru bareng2 sambil membenahi
penampilan luar…kita benahi juga isi yang sebenarnya—dan itu juga
penting),beneran ko…olint juga masih jauh…masih banyak dosa…
Al-Hujurat
49:11
…….janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka
(yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan
pula wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi
wanita-wanita (yang diperolokkan)lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan)
dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil
dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan ialah panggilan buruk
sesudah iman. Dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang2
yang zalim “
Al-Hujurat
49:12
……jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah
dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah
sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara
kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat
lagi Maha Penyayang
nb: kalo ada kalimat yg kurang berkenan mohon dimaafkan…n tolong diperbaiki,,,soal ayat Al-Quran n hadistnya juga…
Wasalam
Dzihni
firuz