Archive for July, 2006

Apa Kabar Negeriku? Kiamatkah?

Friday, July 21st, 2006

Baru kudengar ratusan ribu jiwa melayang di serambi sana…
Setelah itu tetanggaku jogja yang istimewa mengalami hal serupa…
Sulawesi dilanda banjir bandang…
Lumpur panas menguap dari dalam bumi Sidoarjo….
Penyakit tak dikenal mengenalkan statusnya yang baru…
Kini negeriku pun di sapa kembali…
Laut pantai selatan yang menjadi pusatnya…
Bencana Gempa, tsunami, banjir bandang, gunung meletus, Lumpur panas, dan masih banyak lagi… Demam Berdarah, Flu Burung, Busung Lapar, dan HIV pun tak asing kita dengar…

Ratusan jiwa melayang dan jasad yang lain entah hilang kemana…
Ribuan jiwa pun mengungsi mencari tempat aman untuk selamat…
Para ayah mencari tempat untuk dijadikan tempat sekedarnya..…
Para ibu menggendong si kecil sang buah hati…
Sang anak menangis tak tau harus berbuat apa…
Orang tuanya entah dimana…
Sang kakek pun menangis kering diwajah yang semakin keriput…
Tak ada harta yang menjadi kebanggaan…
Yang ada hanya tangisan luka kehilangan sanak saudara…

Apakah kita belajar dari ini?
Apakah kita bisa mengambil hikmah?
Penyesalankah yang kita petik?
Dimana kini alam yang dapat diajak kompromi?
Alam pun mulai menampakkan sesuatu…

Aku tak semestinya mencap ini kah suatu ujian?…
Ataukah azab?
banyak orang yang saling menjatuhkan…
bahkan membuat fitnah untuk merebut kekuasaan…
tak ada rasa kepuasan akan kecukupan…
tak ada sedikitpun rasa malu…
ternyata banyak orang yang saling menikam…
di bawah adalah pencari harta dengan bantuan selainNya…
Astagfirullahhaladziim…

Apakah hanya sebuah opini dan sebuah nyanyian yang dipersembahkan?
Apakah hanya beberapa pakaian layak pakai dan harta sebagai pemecahan dari ini semua?
Tak ada asap jika api tidak dinyalakan…
Korupsi, kecurangan penakaran timbangan,fitnah, pembunuhan, pemerkosaan, perzinahan, aborsi, minuman keras n obat2an terlarang dan masiih banyak yang lainnya…

Perang pun mulai bertaburan dimana2…
Yang merasa kuat ingin status negerinya berkuasa…
Yang menang hanya ingin sebuah tempat untuk melangsungkan kehidupan….
Yang sempit semakin terhimpit…
Yang tertindas semakin luas…

Kini tak ada yang tabu dihadapan kita…
Orang jujur dibilang penghianat dan dihukum…
Orang yang beragama dikatakan ekstrim dan terlalu fanatik…
Maling dikatakan pahlawan …
dan pameran  Dajal (Daerah sekitar dada dan bujal) menjadi figure…
wanita berkostum pun tak ingat siapa jati dirinya untuk berhijrah secara penuh…

Diskotik  kini ramai penghuni…
Sedangkan tempat ibadah?? Ramaikah tempat ibadah??
Apa bisa dikatakan bahwa bagi org yang beriman inilah ujian…?
Dan bagi orang yang dzalim inilah azab yang datang….?
Ya Allah…semakin sering kiamat sugra yang engkau izinkan hadir di bumi kami…
dan ini mungkin karena ulah tangan kami sendiri…
Dan Kiamat Mungkin Sudah Semakin Dekat…
Ya Allah ampunilah dosa2 yang telah kami perbuat…

Allahualam bis shawab…

Semoga kita bisa ngambil hikmah dari kejadian ini semua…. Dan tanpa kita sadari kematian itu lebih dekat dengan kita dibanding siapapun…. Bekal apa yang akan kita siapkan???
nb:
pa presiden sabar yah….negerinya lagi banyak permasalahan…
semoga jika niat bapak yg tulus n ikhlas,,,,mungkin inilah ujiannya…
kadang yang olint ga abis fikir…org tuh sering aja nyari yang jelek2nya dari sisi      
seseorang…kinerja bapak yang dibilang buruk or bla3…tp tetep sing sabar weh nya pa…
lagian olint juga ngerasa ko,kayanya kalo jadi presiden ga mudah..tapi Chayo Pa SBY!!! nyantei aja ko…olint mah ga ngeliat dari mana partai A atow B…ga liat itu…tapi yang penting usaha bapak dalam mempersembahkan yang terbaik dilandasi niat yang baik pula karena Allah…soalnya ngeliat bapak semakin kesini kayanya capek gitu…kantung matanya dah keliatan, berarti bapak kurang tidur…mikirin orang banyak…
(—walau bapak ga baca blog ini…seenggaknya olint bisa ngeluarin aspirasi lewat blog ini, OK pa…olint mah dukung aja lah…lewat doa…buat saudara2 disana juga—)
trus buat keluarga yang ditinggalkan di alam dunia ini ama saudara yang duluan ke alam   barzah…semoga diberikan kekuatan n kesabaran,,,n semakin membukakan mata hati kita bahwa jatah umur kita ga bisa ditawar2 lagi…mau mundur kebelakang atau dimajuin waktunya juga kayanya ga mungkin deh…yang mungkin  gimana persiapan pembekalan amal shaleh kita…walau intinya emang rahmat Allah-lah yang memegang kendali ini semua….Chayo…chayo!! saling doain yah…

Wasalam
Dzihni Firuz

Challenge

Friday, July 21st, 2006

20 juli 2006
12:44 pm

AssWw….
Ternyata tantangan disini lebih besar di bandingkan di luar sana…Baru tadi malam aku bertemu dengan teman2ku dan bersilaturahmi di sana…anehnya aku tak pernah melihat mereka sebelumnya… mereka hadir malam tadi…dan terlihat sedang bersenda gurau dengan pakaian yang terlihat rambut dibalik jilbab panjang yang dipakainya, dalam ceritanya mereka adalah temanku, aku bahkan tak tahu mereka siapa, namun aku mengenal sebagian dari mereka.. …ada yang tertawa sambil tak memperhatikan dirinya,,,,aku tak mengerti…biasanya mereka terlihat berkarisma seperti yang aku fikir sebelumnya…Namun,seiring dengan keberadaan mereka malam harinya kulihat rembulan yang begitu indah terpancar dihadapanku,,,kejadian itu tidak satu kali ku alami…biasanya, pada malam2 dulu aku terbang untuk terus menggapainya, menggapai rembulan itu bahkan aku bisa memetik beberapa bintang yang berkilauan…namun kali ini,  baru tadi malam aku mencoba terbang dengan bantuan balon gas ke angkasa…aku sendiri yang berminat untuk terbang menggapai bulan itu, tp teman2ku tak ada yang ikut denganku…mereka malah yang membuat  balon gas itu, dan dalam cerita itu, penilaian hasil balon gas yang mereka buat ternyata gagal…dan aku mencoba naik dengan menggunakan balon gas itu yg kufikir bisa membawaku ke bulan sana…namun ternyata kali ini aku tidak berdaya….malah untuk ke  atas seolah2 aku berusaha dengan tubuhku untuk melayang ke sana….dan balon itu lah yang membuatku tak berdaya..dan malam itu ketika ku mencoba sekuat tenagaku untuk terbang…hujan pun turun…Ya Allah…apa artinya ini? Bulan itu sangat indah…namun hujan dan balon gas yang tak berenergi menghalangiku untuk ke sana…dan teman2ku banyak berada dibawah…aku hanya melayang sebatas 10 meter dari dasar lapangan tempat aku memulai…dan aku terus berusaha…sampai akhirnya….Aku terbangun….
Astagfirullah….Ya Allah…aku tak mengerti apa maksud itu semua? Yang ku tahu sebelum aku tertidur, aku berdoa sesuatu padaMu…apakah arti dari itu? Allahualam…aku tak ingin mengambil cepat kesimpulan…yang kuingin adalah aku ingin memperoleh jalan itu…walau aku tak berdaya,,,dan entah aku kuat atau tidak, dan semua atas Rahmat dari Mu aku bisa berjalan disini…walau aku tahu untuk menempuh jalanMu tidaklah mudah,,,bahkan kalau aku ingin berjalan, aku harus bisa menghadapi berbagai ujian dr Mu….Ya Allah kuatkanlah aku akan ketetapanMu….

Wassalam

dzihnifiruz

Ya Allah Kenalkan Aku dengan Diriku

Friday, July 21st, 2006

Di
antara ciri-ciri kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah:
Bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati
dan kasih sayangnya. Setiap bertambah amal-amal shalih yang
dilakukannya, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam
menjalankan perintah Allah. Semakin bertambah usianya, semakin
berkuranglah ambisi-ambisi keduniaannya. Ketika bertambah hartanya,
bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya pada sesama. Jika
bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambahlah
kedekatannya pada manusia dan semakin rendah hati pada mereka.

Sebaliknya,
ciri-ciri kecelakaan seseorang adalah: Jika bertambah ilmu
pengetahuannya, bertambah kesombongannya. Setiap bertambah amalnya,
bertambah kebanggaannya pada diri sendiri dan penghinaannya pada
orang lain. Bila semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya semakin
bertambah pula kesombongannya. (Ibnul Qayyim, Al Fawaid)

Saudaraku,

Suasana apa yang terekam dalam jiwa kita saat membaca
kalimat-kalimat di atas? Bilakah kita berada dalam daftar orang-orang
yang berbahagia dan menang? Atau, celaka? Semoga Allah SWT membimbing
hati dan langkah kita untuk tetap memiliki karakter orang-orang yang
berbahagia dan menang. Semoga Allah menjauhkan hati dan langkah kita
dari karakter orang-orang yang terpedaya oleh ilmu, amal dan
kemampuannya. Amiin.

Saudaraku,

Di antara manfaat lain yang bisa kita petik dari petuah Ibnul
Qayyim itu adalah, kedalaman ilmunya tentang lintasan dan
perasaan-perasaan jiwa. Ibnul Qayyim yang banyak berguru pada Imam
Ibnu Taimiyyah itu, berhasil mengenali karakter jiwa kemanusiaannya,
sampai ia pun kemudian banyak mengeluarkan nasihat-nasihat yang
maknanya sangat dalam dan menyentuh tentang jiwa.

Saudaraku,

Mengenali diri memang penting. “Man arafa nafsahu, arofa
Rabbahu,”
orang yang mengenal dirinya,
akan mengenal Tuhannya
. Begitu kata Ali radhiallahu anhu.
Rasulullah saw juda mengajarkan kita untuk lebih banyak bercermin dan
mengevaluasi diri sendiri, ketimbang bercermin dan mengevaluasi orang
lain. Orang yang sibuk oleh aib dan kekurangannya, kata Rasulullah
lebih beruntung, ketimbang orang yang sibuk dengan kekurangan orang
lain.

Dan
memang, manfaat menjalani nasihat Rasulullah ini adalah seperti
dikatakan oleh Ibnul Qayyim, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia
akan sibuk untuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan
kesalahan orang lain.”

Saudaraku,genggam
erat-erat tali keimanan kita, Kenalilah diri. Pahami kebiasaannya.
Rasakan setiap getarannya. Lalu berhati-hati dan kontrollah kemauan
dan kecenderungannya. Waspadai kekurangannya dan manfaatkan
kelebihannya. Berdoalah pada Allah agar Ia menyingkapkan ilmu-Nya
tentang diri kita. Sebagaimana senandung do’a yang dilantunkan
Yusuf bin Asbath, murid Sofyan Ats Tsauri, “Allahumma arrifnii
nafsii….”
Ya Allah kenalkanlah aku dengan diriku sendiri….


Muhammad
Nursani

Dipetik
dari rubrik Ruhaniyat, Majalah Islam Tarbawi, edisi 20 th.2

Kita Ini Pengikut Siapa?

Friday, July 21st, 2006

Para
salaf kita sangat tekun mengamalkan sunah dan salat malam. Habib
Segaf bin Muhammad Assegaf berkata, "Aku tidak pernah
meninggalkan qiyamullail sejak usia 7 tahun." Dalam Risalatul
Qusyairiyah seorang saleh berkata, "Sejak usia 3 tahun, aku
tidak pernah meninggalkan qiyamullail."

Di
masa kanak-kanaknya, Abu Yazid Al-Busthami belajar mengaji Quran pada
seorang guru. Suatu saat ia sampai pada firman Allah: "Hai orang
yang berselimut, bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali
sedikit (dari padanya), yaitu seperduanya atau kurangi sedikit dari
seperdua itu." (QS Al-Muzzammil, 73:1-3)

Sepulangnya
dari belajar, ia bertanya kepada ayahnya, "Ayah, siapakah orang
yang diperintahkan oleh Allah untuk bangun malam?" "Anakku,
beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Aku dan kamu tidak mampu meneladani
perbuatan beliau," jawab ayahnya. Abu Yazid terdiam.

Pada
pelajaran berikutnya, ia membaca ayat: Dan (demikian pula) segolongan
dari orang-orang yang bersamamu. (QS Al-Muzzammil, 73:20)

Sepulangnya
dari belajar, ia bertanya lagi kepada ayahnya. "Siapakah yang
bangun malam bersama Nabi SAW?"

"Anakku,
mereka adalah sahabat-sahabat beliau."

"Ayah,
jika kita tidak seperti nabi dan tidak pula seperti sahabat- sahabat
beliau, lalu kita ini seperti siapa?"

Mendengar
ucapan ini, tergeraklah hati sang ayah untuk bangun malam. Hari itu
juga, ia mulai salat malam. Si kecil Abu Yazid ikut bangun. "Tidurlah
anakku, engkau kan masih kecil," bujuk ayahnya.

"Ayah,
ijinkanlah aku salat bersama ayah, kalau tidak, aku akan mengadukan
ayah kepada Tuhanku," jawabnya.

"Tidak
demi Allah, aku tidak ingin kamu mengadukan aku kepada Tuhanmu. Mulai
malam ini salatlah bersamaku."

Abu
Yazid selalu bermujahadah hingga ia mencapai kedudukan yang tinggi di
sisi Allah. Pernah diriwayatkan bahwa suatu hari ia berkata,
"Barangsiapa mengetahui namaku dan nama ayahku akan masuk
surga." Nama Abu Yazid dan ayahnya adalah Thoifur bin Isa.

Tingkat
ketekunan menentukan derajat ketinggian.

Siapa
ingin kemuliaan janganlah tidur malam.

Barang
siapa bersungguh-sungguh, ia akan memperoleh yang diinginkan.
Barangsiapa mengetuk pintu, ia akan masuk. Barang siapa menempuh
perjalanan, ia akan sampai dan akan menganggap kecil apa yang telah
dikorbankan.

Penuntut
ilmu hendaknya bangun sebelum fajar
, walaupun hanya setengah
jam sebelumnya. Jika ia bangun setelah fajar, maka setan telah
kencing di telinganya. Dan barang siapa telinganya dikencingi setan,
ia akan memulai harinya dengan perasaan malas. Syeikh Ahmad bin Hajar
berkata bahwa setan benar-benar telah mengencingi telinga orang itu,
namun ia tidak wajib menyucikannya karena kejadian itu bersifat
batiniah.

——————–

Habib
Muhammad bin Hadi bin Hasan bin Abdurrahman Asseqaf, Tuhfatul

Asyraf,
Kisah dan Hikmah

Hari Ini Adalah Abadi

Friday, July 21st, 2006

Seorang
bijak pernah berkata, bahwa ada dua hari dalam hidup ini yang sama
sekali tak perlu anda khawatirkan.

Yang
pertama: hari kemarin. Anda tak bisa  mengubah apa pun yang telah
terjadi. Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Anda
tak mungkin lagi menghapus kesalahan; dan mengulangi kegembiraan yang
anda rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja.

Yang
kedua: hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, anda tak tahu apa
yang akan terjadi. Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari. Anda
tak mungkin sedih atau ceria di esok hari. Esok hari belum tiba;
biarkan saja. Yang tersisa kini hanyalah hari ini. Pintu masa lalu
telah tertutup; pintu masa depan pun belum tiba. Pusatkan saja diri
anda untuk hari ini. Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini
bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan
esok hari. Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan
hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa
adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.

Berfikir Sederhana

Friday, July 21st, 2006

Terpetik
sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur
dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang
paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai
anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik
sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang
buruan.

Tidak
lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di
atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau
pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya.
Tetapi si pemburu berpikir, "untuk apa merepotkan diri dengan
seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa
besar yang saya incar?"

Tidak
lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di
depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir,
"Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan,
sia-sia." Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar
langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga
penuh,tetapi ternyata, ah… kijang. Ia pun membiarkannya berlalu.
Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia
tertidur.

Baru
setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat
berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu
hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!"
sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang
pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak
orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu
yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun
terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil
dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya
ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti
itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Demikian
juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang
mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim,
baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak
menemukan siapa-siapa.

Source:

dari
suatu sumber…(file ada di computer, tp lupa,,,yg pasti bukan
tulisan sendiri…)

Kisah Seekor Cicak

Friday, July 21st, 2006

Pada
suatu hari terlihat kucing menangkap cicak, tiba-tiba ekor cicak
terlepas dari badannya, tapi ekor itu bergerak-gerak dan
meronta-ronta. Perhatian kucing tertuju pada ekor cicak itu, dan
kemudian ditangkap dan dipermainkannya, sedangkan cicaknya sendiri,
secara pelan-pelan melangkah pergi dan berlalu meninggalkan sang
kucing yang tidak menyadari. Ekor cicak itupun lama kelamaan menjadi
lemas dan akhirnya berhenti sama sekali. Baru pada saat itulah kucing
sadar bahwa dia telah terkecoh, ternyata yang ditangkapnya hanya (se)
ekor cicak palsu, bukan seekor cicak. Dia telah terpedaya dan merasa
menang oleh pesona dan gerakan-gerakan ekor cicak.

Kejadian
itu mengingatkan akan petuah seorang guru sewaktu menasehati muridnya
:"Wahai muridku, Kebenaran itu bagaikan cicak nak, sering orang
hanya menangkap ekornya, dan menganggap bahwa itulah kebenaran yang
sebenarnya". Seorang guru lain juga berpetuah kepada muridnya
:"Mencari kebenaran itu berbahaya, wahai anakku, tapi lebih
berbahaya lagi bila engkau merasa telah menemukannya, lalu mengira
bahwa dirimu saja yang benar, sehingga timbul kecendrungan dalam
dirimu untuk menyalahkan orang lain".

Memang
kebenaran itu mutlak, sedangkan manusia adalah relatif dan penuh
dengan segala kekurangannya. Akibatnya manusia tidak bisa menangkap
kebenaran itu secara mutlak secara keseluruhannya, selalu saja ada
yang kurang. Manusia (biasa) tak dapat menangkap kebenaran secara
utuh dan bulat, selalu saja ada sedikit yang sumbang. Hanya manusia2
yang luar biasa sajalah yang dengan kehendak-Nya diberi wahyu
sehingga dapat memperoleh sirathal mustaqim secara utuh, yaitu para
Nabi dan Rasul. Dengan menyadari segala kekurangan dan kelemahan nya,
manusia selalu berusaha untuk mencari dan mencoba melengkapi,
walaupun sampai akhirnya tetap tidak akan lengkap dan tidak sempurna.
Dalam mencari itulah, manusia selalu berusaha mendekati kebenaran,
dengan berusaha mendekat kepada Tuhan. Maka setiap detik dan setiap
saat dalam kehidupannya adalah dalam rangka mendekat kepada Allah.
Cara pendekatan kepada Allah ini, ialah melalui, ibadah-ibadah yang
tulus dan ikhlas yang dipersembahkannya. Dengan menyadari kelemahan
dan kekurangan itulah maka manusia tidak berani mengklaim atau
mengatakan, bahwa hanya dirinya yang benar, kelompoknya saja yang
benar. Hanya orang yang berpakaian seperti dia saja yang benar, yang
lain, diluar kelompoknya adalah salah, dst.

Lihatlah
soal keimanan, kita tak pernah tahu rahasia tentang iman ini. Kita
tak pernah tahu apakah teman kita beriman atau tidak, sebagaimana
teman itupun tak pernah tahu bahwa kita beriman dan berapa tebal
keimanan kita. Orang tua yang melahirkan kitapun tak pernah tahu
apakah kita beriman atau tidak. Tidak teman, saudara, dan  orang tua,
bahkan kita sendiripun tak pernah tahu apakah kita sudah beriman ?
atau berapa tebal keimanan kita?. Lalu siapakah yang tahu tentang
keimanan kita?. Yang tahu ialah Yang Maha Tahu, hanya Allahlah yang
tahu apakah kita beriman dan seberapa tebal keimanan kita. Bukankah
Allah telah menyindir : "Apakah kamu menyangka akan (begitu
saja) dibiarkan mengaku sebagai seorang mukmin, sedangkan kamu belum
diuji?"
. Kalau kita sendiri tidak tahu tentang keimanan
kita, lalu bagaimana kita dengan congkaknya memberikan penilaian
kepada orang lain? Dengan lancang memvonis si A tidak beriman,
kelompok si B adalah kafir dan begitu seterusnya. Memang kuman di
seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan. Bagi
mereka yang telah merasa menemukan kebenaran dan menganggap dirinya
saja yang benar. Apakah tidak mungkin, jangan-jangan yang
ditangkapnya itu baru "ekor" cicak?. Kalau memang demikian
keadaannya, marilah kita sama-sama berusaha lebih giat lagi mencari
badan dan kepala cicak, mudah-mudahan dalam pencarian itu kita
semakin dekat dan ziyadah iman kita kepada-Nya, seperti salah satu
firman suci-Nya dalam hadist qudsi:

"Sikap-Ku
terhadap hamba-Ku, sesuai dengan sangka-sangkanya terhadap diri-Ku.
Aku akan selalu bersamanya disaat mana dia selalu mengingat diri-Ku.
Kalau dia mengingat Aku dalam dirinya, maka Akupun akan mengingatnya
dalam diri-Ku. Barang siapa yang datang mendekat kepada- Ku satu
jengkal maka Aku akan menghampir padanya satu hasta, dan barang siapa
yang menghampir satu hasta maka akupun akan mendekat kepadanya satu
depa. Barang siapa yang datang kepada-Ku dalam keadaan berjalan kaki,
maka Aku menyongsongnya dalam keadaan berlari."

Semakin
dekat dan bertambah dekat, dalam mencari kebenaran adalah dalam
rangka taqarrub pada-Nya. Sayup-sayup sampai terdengar Bimbo : "Aku
jauh, Engkau Jauh. Aku dekat, Engkau dekat, Hati adalah Cermin,
Tempat pahala dan dosa berkumpul…"

Source:
artikel (copy-an dr temen)

Akhiri dengan Indah

Friday, July 21st, 2006

Kita
tidak pernah bisa menduga apa yang akan terjadi di akhir hari.
Mengawali hari dengan hati riang dan semangat menjulang, kadang bisa
diakhiri dengan bersungut-sungut atau marah oleh sebab berbagai macam
hal. Semangat dan keriangan yang tadinya dirasakan penuh, seolah-olah
terkikis habis oleh satu atau dua kejadian yang dialami. Rasanya,
keseluruhan hari itu menjadi begitu buruk oleh sebab peristiwa yang
dialami di ujung hari.

Permulaan
yang baik, selayaknya mendapatkan ‘penutupan’ yang baik pula. Di
sinilah pentingnya menyadari dan memahami bahwa setiap aktifitas
tidak hanya dinilai oleh awalnya yang bagus atau bagaimana hasil
akhirnya. Keseluruhan dari aktifitas tersebut memiliki nilai. Sebab
proses bagaimana aktifitas itu dilakukan, diawali-dijalankan-dan
diakhiri, semuanya merupakan ‘permata’ yang sangat penting bagi
diri seorang muslim. Bagaimana tidak? Allah tidak menilai amalan
seseorang dari hasil akhirnya saja, melainkan dari keseluruhannya.
Bukankah bagaimana akhir hidup seseorang pun menentukan di mana
‘tempat’ kelak ia berada? Dan perjalanan hidup seseorang itu,
bagaimana ia menjalaninya, akan menjadi penentu arah mana yang akan
ia ambil, jalan kebaikan atau sebaliknya. Bagaimana seseorang
melewati hari demi hari dalam kehidupannya, akan menjadi catatan
penting sebagai timbangan di hari akhir kelak.

Tak
jarang amalan seseorang itu rusak sebab keikhlasan dalam
mengerjakannya ternodai. Penyebabnya bisa bermacam-macam, baik itu
yang timbul dari dalam diri sendiri, maupun karena diri kita tak bisa
menahan ‘godaan’ yang datang dari luar. Memang, setan selalu
berperan untuk menggoyahkan keikhlasan yang akan menjadikan sebuah
amalan itu diterima atau tidak. Dan musuh nyata bagi manusia itu tak
kan mau kompromi dan berbelas kasihan kepada kita. Kuncinya adalah,
bagaimana diri kita dapat menjadikan setiap amalan kita indah, dengan
selalu menjaga keikhlasan dan meneguhkan keimanan, supaya tak mudah
keikhlasan itu rusak oleh sebab-sebab yang memang selalu mengitari.
Masalahnya adalah, menjaga agar amalan tersebut tetap terjaga
‘keindahannya’ sampai akhir ia selesai dikerjakan, adalah satu
tantangan tersendiri yang selalu menuntut manusia untuk melakukan
yang terbaik yang ia bisa, kalau tak mau dibilang sulit.

Kita
tak pernah bisa menduga apa yang akan terjadi pada akhir hidup kita
nanti. Apakah kebahagiaan abadi yang akan kita reguk, ataukah siksa
berkepanjangan yang menjadi teman bagi kita untuk selamanya? Berada
bersama orang-orang pilihan di surga-Nya, ataukah tenggelam bersama
kesengsaraan di neraka? Itu semua, diri kita sendiri lah yang dapat
menjawabnya. Bukan teman atau sahabat, bukan orang tua kita, bukan
pula orang-orang yang telah menyaksikan segala tingkah polah kita di
dunia. Sebab pada waktu seluruh manusia berkumpul untuk mendapat
perhitungan atas semua amalnya, seluruh anggota tubuh kita akan
bersaksi, menceritakan keseluruhan perilaku kita di dunia. Kita tak
kan pernah bisa mengira-ngira, bagaimanakah nasib kita pada hari itu.

Seorang
Thalhah yang sederhana dan rendah hati pernah menjadi bahan
perbincangan serta menjadi pertanyaan besar oleh Abdullah bin Umar,
ketika Rasulullah selama tiga kali berturut-turut menyebutnya sebagai
‘seorang ahli surga’ pada kesempatan berkumpul dengan para
sahabat. Kemudian Ibnu Umar menemukan rahasia itu setelah menginap
tiga malam di rumahnya. Thalhah, si ahli surga tersebut, rupanya tak
pernah absen membersihkan hatinya dari segala dengki dan dendam
terhadap sesama, setiap kali hendak tidur malam. Ia tak pernah
sedikitpun memendam amarah terhadap orang-orang yang hari itu mungkin
melukai dan menzaliminya. Begitu mulia, begitu sederhana. Namun
rupanya, sebuah amalan penutup malam yang ia lakukan secara kontinu,
mampu mengangkatnya ke sebuah tempat yang dinantikan oleh seluruh
manusia.

Kisah
di atas adalah sebuah contoh kecil, tapi selalu dapat menggetarkan
hati saya setiap kali mengingatnya. Ia telah menjadi kisah populer
yang diulang-ulang di banyak literatur. Betapa tidak, sungguh telah
terbuktikan, bagaimana seseorang ‘mengakhiri’ harinya tersebut
dengan baik, akan membawa keberuntungan besar baginya kelak. Menjaga
keindahan amalan yang telah ia perbuat seharian penuh, dengan sebuah
keikhlasan untuk dapat melapangkan hati yang telah sempit oleh
maksiat dan dosa sepanjang hari.

Bagaimanakah
amalan hari ini kita akhiri? Yakinlah, bahwa ganjaran Allah sungguh
tak terkirakan bagi mereka yang senantiasa berbuat yang terbaik.
Sebab Allah Maha Tahu niat yang tersembunyi di setiap hati hamba-Nya.
Dan berusahalah, untuk mengakhirinya dengan indah…


source:
http://www.eramuslim.com

DH
Devita

<dh_devita at yahoo dot com>

Ikuti Filosofi Akar

Friday, July 21st, 2006

Akar dalam struktur pepohonan menempati posisi paling strategis dan utama. Nyaris semua bagian pepohonan menggantungkan keberlangsungan hidupnya pada akar : batang, dahan, ranting, daun terlebih lagi buah. Bahkan proses lahirnya suatu tanaman yang bermula dari sebuah biji, sebelum membentuk bagian yang lain, yang pertamakali terbentuk adalah akar.

Demikian pula dalam proses pertumbuhannya hingga menghasilkan buah. Akar adalah ujung tombaknya. Saripati tanah sebagai makanan yang akan diproses lebih lanjut tidak bisa tidak harus melalui akar dahulu. Jika akar ini sehat maka bisa dipastikanproses berikutnya akan berjalannormal. Namun sebaliknya, sesubur apapun tanah yang didiami, manakala struktur utama ini bermasalah, bisa dipastikan efeknya dapat berpengarug pada proses selanjutnya. Dan kemungkinan terburuk adalah berakhirnya keberlangsungan hidupnya.

Dari akar ini akan terbentuk batang pohon yang kuat, dahan, ranting, serta dedaunan asri yang sejuk dipandang mata. Dan yang paling dinanti tentu saja bunga yang indah dan buah-buahan yang segar lagi menyehatkan. Pernahkankita memperhatikan aneka warna bunga yang merekah dan memancarkan keindahannya? Pernahkah kita perhatikan rumah kecil dengan sederetan pepohonan dan aneka bunga menghiasi halamannya? Kesan yang timbul tentu kesejukan serta kenyamanan, bukan kecil dan sempitnya rumah itu.

Sesungguhnya akarlah yang menjadikan pohon tegak dan hidup, akan tetapi ia tersembunyi didalam tanah, tidak terlihat oleh manusia. Ia rela semua mata manusia kagum dan menyukai bagian yang lainnya, entah batang kayunya yang kuat atau buahnya yang lezat. Akarlah yang bersusah payah merambat ke segala arah tak kenal kering serta tandusnya tanah di musim kemarau, mencari makanan demi tegak dan hidupnya sang pohon. Ia tidak pernah mengeluh lantaran merasa capek berpuluh-puluh meter mengais saripati tanah, lantas kesal dan “mogok kerja”. Apalagi minta “pensiun”. Biarlah tersembunyi di dalam tanah asalkan bisa memberikan yang terbaik bagi yang ada di permukaan tanah. Itulah prinsip akar.

Begitulah Allah swt mencontohkan keikhlasan sejati pada manusia melalui salah satu ciptaan-Nya. Akan tetapi sedikit sekali manusia yang mengambil fenomena alam ini sebagai pelajaran dalam mengayuh biduk di tengah samudra kehidupan. Sebagian orang lebih mengutamakan ketenaran sehingga membangun amal yang diliputi hiruk pikuk publikasi dan gaung kemasyhuran. Tidak lagi mengedepankan prinsip perjuangan dan pengorbanan. Segala yang ia lakukan hanya untuk memberikan yang berbaik bagi dirinya sendiri, tanpa peduli dengan yang lain. Padahal Allah swt menghendaki manusia mengikuti karakter pohon keimanan, akarnya menghunjam ke dalam bumi, batangnya menjulang tinggi ke langit dan memberikan buah yang lezat bagi siapa saja. (QS. Ibrahim : 24-25)

Sungguh mustahil tanpa akar yang menghujam kuat ke bumi akan menghasilkan buah yang berkualitas tinggi, karena badai dan topan akan mudah melumatkannya sebelum proses pembuahan terjadi. Dalam kehidupan manusia memberi arti bahwa suatu amal yang berangkat dari niat yang tidak ikhlas mustahil akan memperoleh hasil baik dan memuaskan. Kalaupun membawa keusuksesan maka itu bersifat semu dan membawa kemudharatan lebih besar dari maslahatnya. Niat yang terkonatmimnasi dengan polusi hawa nafsu akan merusak amal, mengotori jiwa, melemahkan barisan dan menggagalkan pahala.

source:http://www.eramuslim.com
M. Mabruri Faozi, Cirebon
Dikutip dari Majalah Tarbawi Edisi 29 th