Jiwa-Jiwa Mahsyar

Isrofil baru saja meniup sangkakala atas idzin-Nya namun suaranya
masih saja menggelegar dan menggetarkan setiap jiwa-jiwa yang mulai mendengar
dari tidurnya yang panjang. “(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan
bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar)
berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Qs. Ibraahim(14):48)

Jiwa-jiwa mahsyar berpandangan, terpaku ketakutan.Menelan ludah yang tak berkesudahan.
  Berjalan seakan kehilangan ingatan. Tak terbayang kengerian diantara panasnya
  sengatan mentari yang jaraknya hanya sejengkal di atas ubun-ubun sendiri. Duhai
  Rabbi, inikah tempat yang kau janjikan ? tempat dimana engkau cabut syaraf
  malu dan iba kami. Ketika kami mengasihani diri sendiri diantara butiran-butiran
  keringat yang menenggelamkan tubuh kami. Mengapa ada diantara kami yang kau
  berikan payung penahan teriknya mentari sementara kami kau acuhkan ?

Jiwa-jiwa mahsyar membelalak tercekam. Ketika Tuhannya memberikan Al Qur’an
  di tangan kirinya. Wahai alangkah baik kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku
  ini. Dimana hartaku kini ? Dimana pangkat dan kekuasaanku ? Ah, belenggu di
  tangan dan leherku ini terasa mencekat. Tercekik. Sekiranya hidup hanyalah
  kehidupan kita di dunia saja dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Haus.
  Kering. Mengapa darah dan nanah yang engkau hidangkan ya Rabbi ?

Jiwa-jiwa mahsyar menatap kosong penuh kepucatan. Benarkah hari ini benar-benar
  terjadi ? benarkah kita telah dibangkitkan padahal dahulunya kita adalah tubuh
  yang telah hancur termakan tanah ? Ah, seandainya saja kudengarkan baik-baik
  sebait ayat yang dibacakan seorang teman sewaktu di dunia, “Betulkah
  apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi
  hidup kembali”…..

“Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Rabbnya
  (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: ‘Bukankah
  (kebangkitan) itu benar ‘Mereka menjawab: ‘Sungguh benar, demi Rabb kami’.
  Berfirman Allah: ‘Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari
  (nya).”

Jiwa-jiwa mahsyar menangis tersedu sedan. Ia meratap, terguguk, pilu, menyayat
  hati. Alam masyhar terang namun terasa gelap. Luasnya seluas mata memandang
  namun serasa sesak, menghimpit paru-paru berjejak asap jahannam dunia. Mengapa
  bentuk tubuhku tidak seperti tubuhku selama di dunia ? dan mengapa aku berbaris
  tidak pada barisan manusia-manusia berwajah cahaya ?

Suatu ketika, Muadz bin Jabal ra menghadap Rasulullah saw dan bertanya: ‘Wahai
  Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT: ‘Pada saat sangkakala
  ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris.’ (QS An-Naba’:18)’

Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata.
  Lalu menjawab: ‘Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat
  besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris.’

Barisan pertama, digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan
  mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih:
  ‘Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya,
  maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…’

Barisan kedua, digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari
  sisi Yang Maha Pengasih: ‘Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan
  sholat,maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…’

Barisan ketiga, mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan
  ular dan kala jengking. ‘Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat,
  maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…’

Barisan keempat, digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran
  keluar dari mulut mereka. ‘Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual
  beli, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…’

Barisan kelima, digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika
  itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman
  di Padang Mahsyar. ‘Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka
  takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah SWT,
  maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…’

Barisan keenam, digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus
  dari badan. ‘Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya
  dan tempat kembali mereka adalah neraka…’

Barisan ketujuh, digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut
  mereka mengalir keluar nanah dan darah. ‘Mereka itu adalah orang yang enggan
  memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali
  mereka adalah neraka…’

Barisan kedelapan, digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala
  ke bawah dan kaki ke atas. ‘Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah
  balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…’

Barisan kesembilan, digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata
  biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. ‘Mereka itu adalah
  orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah
  balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…’

Barisan kesepuluh, digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh
  dengan penyakit sopak dan kusta. ‘Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang
  tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…’

Barisan kesebelas, digiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala,
  gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai
  ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar
  beraneka kotoran. ‘Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya
  dan tempat kembali mereka adalah neraka…’

Barisan keduabelas, mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar
  laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah
  suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan: ‘Mereka adalah orang
  yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka,
  mereka memelihara sholat lima waktu, ketika meninggal dunia keadaan mereka
  sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga,
  mendapat ampunan, kasih sayang dan keredhaan Allah Yang Maha Pengasih…’

Jiwa-jiwa mahsyar mencakar wajahnya. Meratap menyesali kesia-sian hidup sebelumnya.
  Berharap waktu kan berbalik walau sedetik dan menjadikannya menjadi orang yang
  paling bertakwa. Atau bahkan menjadikannya seekor binatang atau makhluk lainnya.
  Tak ada pertanggung jawaban dan tak kan ada penyesalan.

Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba
  terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah
  kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah
  orang-orang yang zalim. (Qs. 21:97)

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang
  dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya
  dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah’.
  (Qs. 78:40)

Jiwa-jiwa mahsyar tersenyum penuh kemenangan. Menggenggam Al Qur’an
  di tangan kanan. Bertelekan permadani dan intan berlian. Meminum minuman yang
  menyegarkan dibawah naungan payung yang meneduhkan. Tak ada kesusahan dan kerisauan.
  Yang ada hanyalah keselamatan yang telah Allah janjikan.

Hadith Qudsi: “Pada hari Kiamat Allah berfirman: ‘Pada hari ini
  orang-orang yang berkumpul (di padang mahsyar) akan mengetahui siapa yang termasuk
  keluarga utama.’ Para sahabat bertanya: ‘Siapakah ahli (keluarga)
  utama itu, Ya Rasulullah?’ Nabi SAW menjawab: Mereka itu ialah keluarga-keluarga
  majlis zikir di masjid-masjid” (Hadith Riwayat Ahmad dari Abu Sa’id
  Al Khudri).

Wallohu a’alam.

Sumber :
Alhikmah.Com - Penulis: Abu Saifulhaq Asaduddin
http://www.hajiumroh.com/content.php?id_menu=220&id_submenu=60

 

Leave a Reply